Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Menjelang Fajar di Rinjani


Photo AlbumSedikit Potret DiriDec 16, '11 10:59 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Blog EntryDec 16, '11 10:27 AM
for everyone
Medio Oktober tahun 2008 lalu, saya menjejak kaki di sebuah desa bernama Gah. Nama yang cukup singkat. Tidak ada makna dari kata tersebut, hanya g-a-h. Desa ini termasuk salah satu desa di kecamatan Seram Timur kabupaten Seram Bagian Timur provinsi Maluku.

Dibandingkan desa yang lain di Seram Timur, desa Gah memiliki tingkat kepadatan penduduk paling rendah. Penduduknya sekitar seribu orang, bahkan mungkin kurang dari angka itu. Wilayah kabupaten yang begitu luas, amat tidak berimbang dengan jumlah penduduk yang berdiam di daerah itu. Sebuah fenomena standar daerah pinggiran di tanah air.   

Wilayah desa Gah memiliki tiga dusun yang jaraknya cukup berjauhan antar dusun. Untuk menuju setiap dusun, sedikitnya empat kilometer jalan yang harus kita lalui sebelum tiba di dusun tujuan. Jarak yang terentang jauh ini merupakan hal yang umum di wilayah terpencil di kabupaten Seram Bagian Timur. Bahkan, pernah suatu kali ketika berada di sebuah desa bernama Batuasa, untuk menuju dusun di desa yang sama saya harus menempuh jarak tidak kurang dari dua puluh kilometer dengan menggunakan perahu kecil bermesin. Sulit bagi saya untuk membayangkan bagaimana semisal musim ombak sedang tinggi. Alternatif yang ada untuk menuju dusun tetangga hanyalah dengan berjalan kaki!  

Tidak ada sarana dan prasarana transportasi darat yang tersedia di desa kecil ini. Sesekali, bila kita beruntung, jasa ojek penduduk dari desa lain yang kebetulan mampir dapat kita manfaatkan. Itu pun, dengan biaya yang tidak murah. Biaya yang cukup mahal ini sebenarnya wajar saja. Pasalnya, medan yang harus ditempuh memang tidak laik untuk kendaraan semacam motor bebek yang banyak dimiliki penduduk desa tetangga. Jalan terjal, berlubang, lumpur basah, sungai arus deras yang dangkal, dan beragam rintangan lain.  

Dusun Gah menjadi pusat desa. Pusat pemerintahan yang ditandai dengan lokasi kantor dan rumah kepala desa, terletak di dusun ini. Penduduk di Maluku menggunakan istilah raja sebagai padanan kata kepala desa. Sistem yang digunakan dalam memilih raja berbeda dengan yang ada di Jawa dan tempat yang lain. Di Maluku, model pemilihan raja acapkali berdasar garis keturunan. Seorang raja yang telah purna tugas (dengan berbagai alasan), dapat digantikan oleh anaknya atau orang lain yang masih berada dalam lingkar keluarga raja.  

Raja desa Gah adalah sosok lelaki paruh baya. Usianya sekitar tujuh dasawarsa. Ia mengaku telah lebih dari tiga puluh tahun menjalankan tugas sebagai seorang raja. Meski latar belakang pendidikannya relatif rendah-tidak tamat sekolah rakyat, ia mengaku tetap percaya akan kemampuannya. Ia pun sempat bercerita tentang pengalamannya menginjakkan kaki di tanah Jakarta. Kala itu, ia bersama puluhan kepala desa lain tengah menggagas kebijakan pemekaran wilayah kabupaten Maluku Tengah. Tepat di tahun 2003, kabupaten Seram Bagian Timur terpisah dari kabupaten Maluku Tengah. Raja desa Gah amat senang mengenang kisahnya itu. Terlebih, saat ia bertemu Yusril Ihza Mahendra yang kala itu menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia.  

Selain bertugas sebagai raja, sehari-hari ia juga bekerja mengolah lahan. Dari hasil bertani pala dan beberapa jenis tanaman lain, ia bisa membangun megah rumahnya. Rumah sang raja terlihat amat menonjol bila dibandingkan dengan rumah mayoritas penduduk di sana. Sebagian besar dinding rumahnya tersusun dari semen dan batu bata yang dilapisi cat cukup rata. Atapnya dari genting. Langit-langit rumah tinggi, sehingga udara sejuk senantiasa mengalir memasuki rumah raja. Di tengahnya tergantung lampu hias yang telah diselubungi jaring laba-laba. Lampu hias itu teronggok tak berguna di langit-langit rumah sang raja. Maklum, listrik belum ada di sana.  

Bangunan rumah raja pula cukup luas. Terdapat dua kamar tidur untuk tamu, salah satunya dilengkapi dengan kamar mandi yang cukup moderen. Sebuah bak mandi, lantai keramik, serta kloset jongkok. Di tengah ruangan, terdapat sekat tembok yang memisahkan ruang makan dengan ruang tamu. Seperangkat sofa yang telah banyak berlubang dan meja diletakkan di ruang tamu. Di ruang makan, juga tersedia seperangkat kursi dan meja untuk makan.  

Raja desa Gah memiliki banyak anak dari beberapa istrinya. Di rumah itu, ia tinggal bersama istrinya yang terakhir. Istri terakhir raja desa Gah berusia cukup lanjut. Mungkin sepuluh tahun lebih muda dari suaminya. Anak-anak sang raja sudah keluar dari sarangnya, untuk membentuk sarang yang baru. Beberapa dari anak sang raja terjun ke dunia politik melalui bursa pencalonan anggota legislatif. "Saya sedih, seharusnya anak-anak saya saling mendukung. Tapi, ini malah beda partai," ujar sang istri menyoal perbedaan kendaraan politik anaknya dalam bursa pencalonan.  

Raja, istri, dan anak-anaknya, termasuk dalam kategori penduduk yang beruntung. Rumah berdinding batu, peralatan hidup yang cukup moderen, juga telepon genggam-meski di desanya tidak ada sinyal dari menara pemancar-tampak jauh berbeda dengan kehidupan mayoritas penduduk yang ada di desa ini. Di samping kanan, muka, serta bagian lain dari rumah sang raja tersebar rumah penduduk yang begitu sederhana, teramat sederhana.  

Rumah-rumah penduduk jelata berdinding kayu dan beratapkan seng sudah cukup mewah untuk melindungi mereka dari teriknya siang serta dinginnya malam. Sebagian besar rumah penduduk di Gah terbuat dari daun dan batang pohon sagu. Penduduk biasanya membangun sendiri masing-masing rumah mereka. Dindingnya mereka susun dari pelepah sagu, sementara atapnya tersusun dari jalinan daun sagu yang dibuat dengan tangan mereka sendiri.  

Di desa Gah, mata pencaharian utama penduduk setempat adalah dari hasil laut dan tanah. Wilayah Maluku memang teramat dikenal dengan hasil lautnya yang melimpah. Berbagai jenis penghuni laut dapat ditemukan di laut Maluku. Gah juga terkenal sebagai basis penghasil udang dan ikan jullung-jenis ikan berbentuk pipih panjang dengan bentuk mulut runcing. Ikan hasil melaut mereka gunakan untuk kebutuhan hidup keluarga. Bila ada hasil lebih, mereka jual ke penduduk lain yang mau membeli.

Harga jual hasil laut yang mereka tangkap sangat jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga di wilayah Jawa misalnya. Satu kilogram udang di sana dihargai tak lebih dari lima ribu rupiah. Sementara di pulau Jawa, harga udang dengan bobot yang sama bisa mencapai puluhan ribu rupiah.  

Pergi melaut tidak bisa mereka lakukan sepanjang tahun. Saat musim ombak sedang tinggi, praktis penduduk tidak bisa pergi menjaring ikan. Resiko yang mereka hadapi terlalu berat, dengan segala sarana mencari ikan yang masih tradisional yang mereka gunakan. Selain melaut, bercocok tanam menjadi pilihan untuk menyambung hidup bagi masyarakat di sana. Komoditas pertanian desa Gah diantaranya umbi-umbian, palawija, rempah-rempah, dan beberapa tanaman lain. Tanaman pala menjadi satu komoditas pertanian yang paling banyak ditanam di desa Gah. Harga jual pala cukup tinggi bagi mereka, sekitar lima puluh ribu rupiah untuk setiap kilogramnya.  

Selain rempah-rempah, umbi-umbian juga banyak dihasilkan penduduk desa diantaranya, ubi kayu, ubi jalar, dan sagu. Sagu menjadi komoditas pangan pokok hampir seluruh masyarakat di Maluku dan wilayah timur Indonesia lainnya. Di desa Gah sukar bagi warga untuk bisa mengakses jenis pangan selain sagu. Harga beras jatah untuk rakyat miskin (raskin) di desa Gah bisa mencapai sepuluh ribu rupiah per kilogramnya. Alhasil, raskin yang sedianya didistribusikan untuk mayoritas penduduk miskin di Gah, menumpuk di rumah raja mereka.

Sebagian besar penduduk di sana tak memiliki dana lebih untuk membeli beras yang menjadi pangan mewah bagi mereka. Di sebuah tempat yang lebih maju dan padat penduduk di kabupaten yang sama, saya pernah menemukan raskin diperdagangkan secara bebas di toko-toko kelontong dengan harga sepuluh ribu rupiah untuk setiap kilogramnya. 

Untuk mendapatkan sagu, para lelaki dewasa biasanya bekerja pada pemilik pohon yang hendak mengolah hasil sagu. Mengolah sebuah pohon sagu tidak terlalu sukar. Hanya saja, biasanya satu pohon membutuhkan waktu hingga tiga hari serta sedikitnya tiga orang pekerja untuk menghasilkan sagu yang mereka butuhkan. Satu pohon sagu bisa menghasilkan lebih dari tiga puluh kilogram sagu.Upah para pekerja untuk satu pohon dihargai sebesar satu tumang (sekitar lima kilogram) sagu. Satu tumang sagu yang mereka peroleh cukup untuk makan empat orang dalam satu minggu.  

Sagu tumang yang diperoleh membutuhkan beberapa tahap pengolahan sebelum siap untuk dikonsumsi. Proses pembakaran, dengan alat khusus yang rata-rata dimiliki penduduk di sana, menjadi tahap untuk mempertahankan keawetan sagu. Membutuhkan waktu beberapa jam untuk proses pembakaran sagu ini. Sagu yang telah dibakar nantinya dapat disimpan hingga berbulan-bulan sebagai persediaan pangan keluarga.  

Bila di Jawa kita akan mudah menemui beragam jenis sayuran. Di desa Gah dan di banyak tempat lain di kabupaten ini, sayur amat sukar didapatkan. Satu-satunya jenis sayur yang dapat dengan mudah ditemukan adalah kangkung. Kangkung tumbuh liar di daerah Gah. Selain kangkung, bunga daun pepaya pula tak ketinggalan menjadi bahan pangan.    

Pilihan jenis makanan penduduk desa Gah tidak banyak bila dibandingkan dengan penduduk yang berdiam di kota-kota besar. Dengan sagu, ikan, dan sesekali sayuran, penduduk di sana melakukan aktivitas keseharian mereka. Penduduk di sana telah terbiasa dengan pola hidup tersebut. Tetapi, tentu saja, rasa terbiasa itu merupakan sebentuk hasil dari tiadanya pilihan yang lain bagi mereka.  

Bila raja beserta keluarganya bisa memiliki kamar mandi pribadi, tidak demikian dengan penduduk desa yang lain. Satu-satunya pilihan bagi mereka untuk membersihkan badan adalah sarana umum yang dibangun penduduk di sana. Tempat untuk mandi dan mengambil air berada di satu lokasi terpusat yang menyediakan air bersih. Di desa Gah, tidak ada pipa yang bisa mengalirkan air ke masing-masing rumah penduduk. Sementara, untuk membuang hajat, penduduk mau tidak mau harus menuju ke tempat khusus yang terletak di bibir pantai. Untuk sekadar membersihkan badan bagi penduduk di desa Gah dan banyak penduduk di tempat lain bukan perkara mudah. Sebaliknya, bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan, hal tersebut mungkin dipandang amat sepele.  

Meskipun kehidupan masyarakat di desa Gah tergolong sulit. Namun, tingkat kelahiran penduduk cukup besar. Satu keluarga di sana seringkali memiliki lebih dari lima anak dengan jarak kelahiran yang cukup berdekatan. Jarak kelahiran antar anak bisa mencapai sepuluh bulan. Alhasil, seorang anak berusia enam tahun yang seharusnya masih menikmati masa-masa bermain, mau tak mau mengemban tanggung jawab untuk menjaga beberapa adiknya.  

Penduduk tidak dapat melakukan perencanaan kehamilan bagi anak mereka. Sebabnya, tidak ada toko atau pusat kesehatan yang menyediakan alat kontrasepsi di desa ini. Tidak seperti beberapa desa lain yang telah memiliki fasilitas kesehatan. Di desa Gah, sarana kesehatan tidak tersedia. Artinya, untuk berobat di pusat kesehatan resmi mereka mau tak mau harus keluar dari desa. Dengan pendapatan mereka yang bahkan belum cukup untuk sekadar ongkos makan, rasanya berobat keluar desa adalah hal yang teramat mustahil.  

Satu-satunya tenaga medis yang dipercaya penduduk Gah adalah dukun setempat. Dukun menjadi satu-satunya pilihan. Sebagian besar penduduk di sana melakukan proses persalinan dan berbagai pengobatan lainnya dengan bantuan dukun. Bahkan, proses pemberian nama bayi setelah proses persalinan berada di bawah otoritas sang dukun setempat. Menakjubkan.  

Di luar desa Gah, saya pernah berbincang dengan seorang ibu yang baru beberapa hari melalui proses persalinan. Ia bercerita soal hal unik tentang persalinan yang terjadi di tempat tinggalnya. Ibu itu tinggal di pulau Geser, sebuah tempat yang jauh lebih maju dibanding desa Gah. Di tempat tinggalnya sudah ada jasa bidan yang dapat dimintai bantuan untuk proses persalinan. Selain bidan, dukun di daerahnya pun masih tetap melakukan praktik yang sama.

Uniknya, ibu itu tidak hanya meminta jasa bidan tetapi juga dukun untuk membantu proses kelahiran anaknya. "Kalau tidak begitu, bisa berkelahi nantinya," jelas sang ibu. Rupanya, masih ada egosentrisme dalam perkara jasa persalinan di desa ibu tersebut. Bagi sang dukun atau bidan, hal itu menyangkut keuntungan yang bisa mereka dapatkan. Sebaliknya, bagi sang ibu, pelibatan dukun dan bidan berarti pengeluaran yang berlipat ganda.     

Masih seputar peran dukun yang begitu dominan. Di desa Gah, dan di beberapa tempat lain di desa ini, unsur magis masih begitu kental. Sesaat sebelum saya memutuskan untuk beranjak menuju desa ini. Seorang penduduk desa tetangga sempat memperingatkan agar saya berhati-hati bila berada di desa ini. Alasannya, warga desa Gah konon sering mencobai para pendatang dengan ramuan magis yang biasa mereka campur dalam minuman yang dihidangkan. Rasa percaya sekaligus tidak percaya bercampur aduk dalam benak. Pada umumnya, di berbagai penjuru tanah air, terutama daerah yang notabene masih terpencil, unsur-unsur metafisis menjadi wacana sehari-hari. Tetapi, inti dari semua itu sebenarnya adalah sikap saling menghormati dan menghargai kepercayaan serta kebudayaan masyarakat di masing-masing wilayah.    

Kita kembali ke persoalan kesehatan penduduk di desa Gah. Pendapatan keluarga yang rendah bergerak simetris dengan tingkat asupan gizi bagi anak-anak di sana. Tidak sulit bagi kita untuk menemukan anak-anak dengan perut membusung, cairan ingus yang terus-menerus keluar, penyakit kulit, dan beberapa faktor lain yang mengindikasikan rendahnya kualitas kesehatan penduduk di desa ini. Betapa tidak, pangan dengan gizi rendah, sarana dan prasarana kebersihan yang tidak memadai, serta cara hidup masyarakat di sana memberi peluang yang besar bagi rendahnya tingkat kesehatan penduduk. Bila anak-anak di kota besar dapat dengan mudah menjangkau susu serta vitamin. Bagi anak-anak di desa Gah, mungkin bisa bertahan hidup saja sudah sangat beruntung.  

Terdapat dua bangunan sekolah yang berdiri di pusat desa Gah. Satu buah bangunan sekolah dasar serta satu bangunan sekolah menengah pertama. Sebelumnya, penduduk desa Gah harus keluar dari desa bila hendak menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi dari sekolah dasar. Tetapi, semenjak bantuan pendirian sekolah menengah pertama oleh pihak dari Australia diturunkan, penduduk tak perlu lagi keluar dari desa tuk sekadar bersekolah. Setidaknya, sampai jenjang menengah pertama. 

Bagi penduduk di desa Gah, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi ibarat mimpi yang tak jua menjadi kenyataan. Kesulitan yang dialami oleh penduduk Gah tidak kunjung hilang. Sukarnya mencari nafkah, bahan makanan yang berkualitas, fasilitas kesehatan yang memadai, ditambah jenjang pendidikan tinggi yang ibarat mimpi, semakin mempercepat gerak roda kemiskinan di desa ini.  

Satu-satunya harapan bagi mereka sekarang adalah percepatan penyelesaian bandara udara yang sekarang sedang dalam proses pembangunan. Tentu akan timbul pertanyaan di benak kita tentang fenomena ini. Pembangunan bandara di desa terpencil? Bukankah seharusnya fasilitas kesehatan, sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, dan berbagai fasilitas lain yang lebih penting untuk dibangun terlebih dulu? 

Gah, sebuah desa terpencil dimana tiada listrik, tiada pipa penyalur air ke setiap rumah, tidak ada bidan yang dapat membantu persalinan, dan berbagai fenomena nestapa lain. Ternyata, menyimpan sejuta kekayaan tambang. Wilayah Maluku memang kaya akan kekayaan tambang, dua yang terbesar yakni minyak bumi dan logam mulia.  

Di Bula, pusat kabupaten Seram Bagian Timur, terdapat dua perusahaan asing yang menguasai tambang minyak bumi. Dua perusahaan tersebut yakni Citic Seram Energy, Ltd. dari RRC dan Kalrez Petroleum Energy dari Australia. Keduanya telah beroperasi sejak lama. Selain bandara, di Bula juga terdapat pelabuhan yang dirancang untuk menunjang kelancaran aktivitas produksi minyak bumi yang dikelola perusahaan tersebut. Saya sempat mendapati sebuah kapal minyak raksasa bersandar di pelabuhan ini.   Pembangunan bandara di desa Gah, tidak lain sebagai upaya memperlancar aktivitas eksplorasi tambang di wilayah tersebut. Kabar dari penduduk setempat, pihak yang berkepentingan untuk mengelola areal tambang di desa ini adalah perusahaan minyak dari Australia. Dari sini saya mendapat pencerahan tentang alasan pihak Australia melakukan pembangunan sekolah menengah pertama di desa Gah. Sebuah hal yang ironis untuk nilai tambang yang dimiliki penduduk desa Gah. Tetapi, bagi warga di desa ini, pembangunan tersebut menjadi titik awal cahaya yang menerangi desa mereka setelah bertahun-tahun dirundung kegelapan. 

Gah boleh berbahagia, karena pembangunan bandara serta rencana eksplorasi tambang di daerah ini memberi harapan bagi mereka untuk memperbaiki kesejahteraan. Ya, harapan, sebab tidak sedikit daerah lokasi tambang yang justru semakin tersaruk-saruk dalam kesejahteraannya. Namun, setidaknya Gah memiliki harapan kini. Tetapi, mari bertanya bagaimana nasib wilayah lain yang tidak seberuntung Gah. Wilayah terpencil yang tidak memiliki tambang dan yang belum terjamah niat mulia pemerintah maupun swasta untuk memperbaiki kondisi daerah itu. Akankah di desa mereka nantinya juga didirikan sekolah menengah pertama, fasilitas kesehatan, atau sekadar sarana membersihkan badan?    

Gah, merupakan satu wilayah kecil di tanah air. Setumpuk cerita miris yang menjadi sahabat sehari-hari penduduk di sana, menyisakan kepedihan di hati. Ketimpangan yang terjadi di negeri dengan jargon pembangunan yang senantiasa di dengungkan ini telah sedemikian jauh. Sementara manusia di kota-kota besar sibuk membeli pakaian mode terbaru atau merencanakan pesiar ke luar negeri. Orang-orang kecil di desa Gah dan di desa-desa yang lain, tengah berjuang melawan lapar dan penyakit yang terus menggerogoti tubuh renta mereka.

Saya dan manusia-manusia yang lain, masih sebatas melihat dan mendengar hingga kini. Sayangnya, yang penduduk desa terpencil butuhkan bukanlah sekadar teman berbagi cerita. Lebih dari itu, perubahan keadaan, perbaikan kesejahteraan, serta keluar dari jerat kemiskinanlah yang mereka nantikan. [Agnes P. B. Ginting]  

Blog EntryDec 16, '11 10:21 AM
for everyone
Kota S tahun 1995. Aku mengenal Ibnu di sekolah minggu. Ketika itu, usiaku baru sebelas tahun. Ibnu kecil, usianya dua belas tahun. Rambutnya kemerahan diwarnai siang jalanan. Kulitnya legam. Tak sedikit borok yang betah menghiasi dua tungkainya. Kami saling memperkenalkan diri. "Ibnu," jawab Ibnu lirih sambil membalas uluran tanganku. Setelah itu ia diam. Ibnu tak lagi mengeluarkan sepatah kata.

Ibnu tak perlu banyak berkata-kata, bercerita soal kehidupan kesehariannya. Setiap matra yang membentuk tubuhnya berbicara sendiri pada orang-orang di sekitarnya.  

Paskah di tahun yang sama, Ibnu tak bisa bawa telur seperti yang lainnya. Ibnu tetap datang ke gereja. "Telurnya sudah saya makan sama adik," jelas Ibnu perkara ia tak membawa telur. Bagaimana ia bisa membawa telur ke gereja, lebih baik ia jadikan pengganjal perut keluarganya. Selesai ibadah gereja, ia pulang membawa satu bungkus nasi juga lauk pauk serupa denganku dan lainnya. Ibnu senang, tak harus mengurangi sisa uangnya untuk membeli makan siangnya dan keluarga.       

Ibnu mengawali jabang bayi yang mengisi rahim ibunya. Beberapa tahun setelah Ibnu melihat dunia, berturut-turut dua adik perempuannya susul-menyusul langkah Ibnu. Beruntung Ibnu kecil masih sekolah. Sekolah dasar kelas empat. Seorang rohaniwan sudi menyisihkan sebagian penghasilannya untuk biaya sekolah Ibnu dan adik-adiknya.  

Lebih sekali ia tertambat di kelas yang sama. Bukan perkara otaknya tak sebaik kawan-kawannya. Ia hanya tak pandai membagi waktu antara bekerja dan belajar di balik bangku sekolah. Ibunya seorang diri semenjak ditinggal pergi bapaknya. Ibnu tak pernah mengutuki bapaknya, yang pergi tak meninggalkan sebidang tanah atau sepetak rumah. Bapaknya hanya pergi di ujung tahun 1993, itu saja.  

Kepergian bapaknya hanya berarti satu hal di benak Ibnu kecil. Ibnu menduduki jabatan yang bergengsi dalam keluarga. Ya, Ibnu menjadi sang kepala keluarga muda, mendampingi ibunya, membawahi dua adik perempuannya. Kesenangan Ibnu sekadar satu waktu. Lepas itu, ia harus menemani ibunya, menapaki jalan siang hinggap di rumah satu ke rumah lain. Menoreh-noreh tempat pembuangan akhir rumah kelas menengah.  

"Aku ingin punya pagar," cerita Ibnu suatu kali. Ibnu terus bermimpi, andai suatu hari ia punya pagar yang mengitari rumahnya. Riang hatinya, membayangkan mengunci pagar rumah di mimpinya. Sayang, ia hanya punya gerobak tua, tempat ibu dan adik-adiknya bergumul dalam lelah setiap harinya. Ibnu sering mempertanyakan nasibnya. Hidup di tengah perbedaan rumah besar, kecil, serta gerobaknya, sering membuat gundah hati Ibnu kecil. "Tuhan memberikan segala sesuatu sesuai kebutuhannya," kata pembimbing kami di sekolah minggu. Gundah Ibnu meredam.    

Siang saat matahari berada di atas ubun-ubunnya, Ibnu mulai berkelana. Memanggul karung bekas beras yang ia beli tujuh puluh lima rupiah. Dengan selonjor batang kayu pipih, membantunya membalik-balik barang tak lagi berguna di rumah kelas menengah. Berkeliling-keliling, sampai tiba matahari malu-malu mengundurkan diri. Memilah lantas membawa rongsokan ke pengepul yang serupa malaikat buat Ibnu kecil. Dua ratus rupiah sudah begitu berharga. Senin bertemu senin berikutnya, setiap hari. Ibnu kecil berkeliling memunguti remah-remah di tempat pembuangan.  

Ibnu kecil kerap terlelap. Lapar dan lelah menjadi saudara seimannya. Lelah, sebab pagi hingga sore ia habiskan untuk sekolah dan bekerja. Lapar, karena dua piring nasi sudah menjadi mujizat di hari-harinya. Tidur menjadi penawar mujarab bagi dua saudara seiman Ibnu. Pekerjaan rumah sisa separuh hari berguru di sekolah hanya menambah ragam bunga tidur Ibnu yang lapar dan lelah.  

Esoknya, Ibnu tergeragap dihujani pertanyaan mengapa pekerjaan rumah tak ia selesaikan. Sekali, berkali-kali, gurunya tak tahan lagi. Aturan dibuat untuk semua anaknya di sekolah. Tak pandang Ibnu kecil atau si Rudi anak pejabat yang habis waktu liburannya buat pesiar di Songgoriti. Nilai Ibnu banyak merah, hanya geografi yang sedikit bantu nilainya yang lain.  

Geografi jadi pelajaran kesukaan Ibnu. Tiap ada kesempatan jam istirahat, ia belajar menghafal nama kota dan negara dalam atlas yang tersimpan sarat debu di rak perpustakaan sekolahnya. Perpustakaan, membantu meredam hasratnya berbelanja di kantin sekolah. Menatap nanap kawan-kawannya yang berlenggang sambil menghisap gula-gula atau roti isi pisang berlapis coklat. "Suatu hari saya mau jalan-jalan ke luar negeri," ujar Ibnu kecil padaku suatu kali lepas sekolah minggu. Dari banyak nama kota dan negara di atlas, India jadi nomor satu di hatinya. India, namanya serupa Indonesia pikir Ibnu sederhana.    

Dua kali tidak naik kelas tak membuat malu benak Ibnu lantas mengurung diri di kamar. Ibnu tak punya kamar. Tiap malam ia menepi di sudut masjid. Berteman dingin dan serangga malam. Syukur masjid dekat gerobaknya tak dilingkari pagar. Ibnu masuk dan memilih sudut yang ia rasa nyaman. Ibnu kecil membayangkan, apa jadinya bila masjid diberi pagar. Ia tak bisa masuk ke dalamnya, untuk meredam lapar dan lelahnya seharian menggerakkan badan. Gerobaknya terlalu kecil untuk menampung ia, ibu, dan adik-adiknya sekaligus. Ibnu terlampau sayang ibunya, juga kedua adik perempuannya. Biar saja Ibnu yang menjadi kalah.  

Ibnu kecil tetap sekolah. Terlalu banyak pula mimpi yang telah dirilis Ibnu untuk merubah nasibnya dan keluarga kecilnya. Ibnu tak mau berhenti sekolah. Si Doel Anak Sekolahan jadi pilar keyakinannya. Saban Minggu malam ia sempatkan diri mengamati nasib Si Doel di televisi warung Bu Min. Lewat sekolah, Si Doel bisa ke luar negeri. Ibnu ingin ke luar negeri.  

Pernah suatu kali, adiknya menangis minta gula-gula. Ibnu tak punya lebih uang selain untuk beras, kerupuk, dan cabai kecil merah. Ibnu terlalu sayang adiknya, ia mencuri gula-gula. Pencurian berhasil, adiknya berhenti mengeluarkan air mata. Pendeta mengajarkan Ibnu untuk tidak mencuri. Tetapi, kata-kata pendeta tak bisa menyelesaikan tangis adiknya.  

Suatu Minggu, Ibnu tak datang ke gereja. Ini tidak biasanya. Satu alasan Ibnu ke gereja, bisa menikmati semangkuk sup kacang hijau lepas sekolah minggu. Enam hari ia habiskan untuk bergelut dengan pahit dan dingin rutinitas antara sekolah dan mengais sampah. Di sekolah minggu, semangkuk sup kacang hijau memberi manis dan kehangatan. Pengajar di sekolah minggu bertanya pada seluruh murid perihal ketiadaan Ibnu saat ini. Kelas hening, tak ada satu murid yang menjawab. Kami tidak tahu, kami tidak peduli.  

Lepas sekolah minggu, kupaksakan diri mencari dia di gerobaknya. Kudapati ibunya dengan mata sembab tengah menyuapi kedua adiknya. "Ibnu di penjara," kata sang ibu. Tiga hari lalu, Ibnu tertangkap mencuri keran masjid. Ia dipukuli warga, lantas dimasukkan ke bui. Ibnu harus menghabiskan tiga minggu waktunya di penjara khusus anak. Kasihan Ibnu kecil, ia masih saja mengasihani ibu dan kedua adiknya. Ulang tahun adiknya, Ibnu menjanjikan beli satu boneka buat adiknya. Ibnu malang, kali ini nasibnya tak seberuntung biasa. Satu jemaah masjid melihat gerak Ibnu mencongkel keran. Ibnu tertangkap, pasrah.    
Aku tak berani mengunjungi Ibnu di bui. Satu, dua, tiga minggu telah lewat. Minggu ini seharusnya Ibnu sudah ada di gereja. Tapi, aku lagi tak mendapati Ibnu yang merah rambutnya diwarnai matahari. Kata ibunya, Ibnu pergi ke kota B. Lepas dari bui bersama kawan satu selnya, Ibnu mengadu nasib di sana. Ibunya senang dan sedih menjadi satu. Aku terdiam. Ibnu yang dua belas tahun mengadu hidup di kota lain.  

Sambil berjalan pulang, kudapati puluhan bocah sambung-menyambung bermain di lapangan rumput. Tawa mereka lepas, lepas. Sesekali terjatuh, berdiri, goyang, bertahan. Kembali ku teringat ucapan pembimbing di sekolah minggu, "Tuhan memberikan segala sesuatu sesuai kebutuhannya." Ku tak begitu paham artinya. Yang ku tahu, Ibnu harus bergulat dengan sesak untuk sekadar membujuk jantungnya melanjutkan kehidupan. Sementara, aku dan anak-anak lain bebas bermain dan sebentar ibu memanggil kami pulang untuk makan siang.[Agnes P. B. Ginting]

Blog EntryDec 16, '11 10:12 AM
for everyone
Caturwati, seorang ibu muda berusia sekitar dua puluh tahun. Sore itu (2/3), ia tengah bersama anaknya, gadis kecil berumur tak lebih dari dua tahun. Duduk di pinggir muara sungai, sembari bercengkerama dengan beberapa perempuan lain, tua muda. Caturwati tampak rapi dan bersih, begitu pula buah hatinya. Suaminya bekerja sebagai nelayan, serupa dengan sebagian besar suami para perempuan di wilayah pesisir ini.  

Aktivitas harian Caturwati sebatas ibu rumah tangga. Hanya saja, bila kondisi cuaca tidak memungkinkan bagi nelayan untuk pergi menebar jala. Caturwati, mau tidak mau, turun tangan untuk menopang kondisi ekonomi keluarganya dengan berdagang kecil-kecilan. Mata pencaharian sebagai nelayan tidak bersifat sepanjang tahun. Pergerakan angin barat menjadi titik awal masa paceklik bagi para nelayan. Angin yang kencang disertai tingginya ombak tak mampu ditembus perahu. Maklum, perahu nelayan di daerah ini masih bersifat tradisional. Rata-rata terbuat dari kayu dan mayoritas berukuran sedang.          

Caturwati sudah cukup lama berdiam di daerah pesisir kecamatan Puger kabupaten Jember. Sebelumnya, ia tinggal bersama keluarga di kecamatan Gumukmas. Lepas kelas dua sekolah menengah pertama, ia menetap di Puger. Perempuan ini banyak bercerita tentang kehidupan masyarakat di tempat ia berdiam. "Masyarakat di sini sering nggak mikir buat besok mbak," ungkap Caturwati. Pendapatan nelayan bergantung pada kebaikan musim. Pergerakan angin timur menjadi waktu yang tepat bagi para nelayan meraup hasil dari laut. Sayangnya, pendapatan para nelayan di musim panen ini sering tidak dikelola dengan baik. Hasilnya, pendapatan mereka raib seiring sejalan dengan waktu panen nelayan.  

Di musim paceklik, para nelayan beserta keluarganya acapkali menggantungkan kebutuhan hidup dari hasil mengutang. Caturwati mengaku, dulu ia pun sempat berperilaku tak jauh berbeda dengan kebiasaan mayoritas masyarakat di sana dalam mengelola keuangan. Namun, setelah beberapa waktu, ia akhirnya sadar. Belakangan, sebagian pendapatan suaminya menjaring ikan ia sisihkan. "Kalau suami saya dapat seratus ya saya simpan sepuluh mbak," tuturnya.   Apa yang dikisahkan Caturwati, membawa benak ini pada titik kontemplasi.

Pernah suatu ketika, seorang kawan yang berdomisili di negara adi daya mengutarakan rasa herannya tentang kondisi di negara ini. Dengan status sebagai negara berkembang-konon istilah ini hanya sebatas eufemisme-jumlah pengendara kendaraan bermotor di wilayah ini begitu tinggi. Rasa heran itu wajar. Sebab, di negaranya kepemilikan kendaraan bermotor diatur sedemikian ketat. Hal ini akhirnya berdampak pada tingginya biaya kepemilikan atas kendaraan bermotor. Dan lagi, tingkat pendapatan rata-rata penduduk di negaranya tinggi menjulang bila dibandingkan pendapatan per kapita negara di dunia ketiga.  

Hujan iklan komersial turun semakin pesat di negara ini. Masyarakat akhirnya tak kuasa. Setelah sekian lama menahan-nahan hasrat untuk tidak turut memiliki produk-produk otomotif terbaru. Pertahanan pun runtuh. Betapa tak, kondisi angkutan umum dengan tarif tidak murah, belum lagi maraknya perusahaan penawar jasa kredit lunak otomotif yang semakin menjamur, mengirim godaan yang sedemikian besar. Akhirnya, tingkat kepemilikan kendaraan bermotor meningkat waktu demi waktu.  

Perilaku konsumtif merupakan sebuah fenomena, di belakangnya tersimpan setumpuk kondisi kausal yang menyebabkan fenomena itu terjadi. Peningkatan perilaku konsumsi tidak bisa lepas dari perkembangan konsep akumulasi modal. Paradigma peningkatan keuntungan melalui produksi massal menuntut konsumen menyerap hasil-hasil produksi. Upaya ini tentu tidak mudah. Untuk melancarkannya, iklan komersial beserta segenap strategi promosi, lembaga-lembaga kredit keuangan, hingga norma-norma masyarakat dilahirkan.  

Perkembangan media publik menjadi celah yang lebar bagi masuknya promosi hasil-hasil produksi. Mulai dari koran, majalah, televisi, radio, internet, baliho di pinggir jalan, hingga iklan-iklan komersial di spanduk rumah makan. Banyak strategi promosi yang dikerahkan perusahaan untuk menarik perhatian masyarakat. Tak hanya melalui media iklan, pencitraan pun gencar dilancarkan melalui kontrak dengan tokoh-tokoh masyarakat. Kini, tokoh agama pun bisa jadi bintang produk komersial.  

Keinginan masyarakat untuk konsumsi yang tak seimbang dengan pendapatan rutin yang diterimanya, tidak menjadi aral. Kehadiran lembaga-lembaga keuangan dengan aneka jenis penawaran kredit seolah menjadi malaikat penyelamat. Akhirnya, masyarakat bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kini, pendapatan tak lagi menjadi asumsi mutlak yang memengaruhi kurva permintaan. Naik turunnya pendapatan tak memiliki dampak berarti bagi hasrat manusia untuk mengonsumsi.  

Tidak berhenti di sana, keberadaan norma-norma tidak tertulis yang berkembang di masyarakat pula menjadi pelicin laju konsumsi massa. Identifikasi hari besar keagamaan sebagai gema pesta belanja, mempercepat arus budaya konsumsi. Lebih lagi, keberadaan hari-hari istimewa artifisial macam valentines day. Di banyak tempat semarak merah muda seakan menjadi dogma.  

Konsumerisme telah merasuk sedemikian luas. Sekarang, manusia tak butuh obat untuk  penawar flu yang tengah menyerangnya semata. Bahkan, kini sudah tersedia penangkal virus untuk piranti lunak komputer di rumah kita. Ragam kebutuhan diciptakan, keuntungan pun berdatangan. Asumsi kedaulatan konsumen yang diagungkan eksponen ekonomi neo liberal tak lebih dari sekadar isapan jempol semata (Todaro dan Smith, 2003).  

Bila dahulu orang heran dengan orang lain yang memiliki telepon seluler. Kini, orang justru heran bila di dekatnya masih ada manusia yang tidak memegang telepon genggam di jemarinya. Dunia seolah tak hendak menunggu, ia terus melaju. Manusia-manusia besar bersama jet pribadinya mampu mengikuti, manusia-manusia kecil bersama sepeda tuanya sekadar jadi penonton di garis periferi.[Agnes P. B. Ginting]

Blog EntryDec 16, '11 10:02 AM
for everyone
Jalan, memiliki banyak makna. Semua maknanya, amat terikat dengan konteks yang mengiringi kata tersebut. Saya akan merunut makna istilah jalan sesuai dengan kaidah yang ditetapkan dalam kamus besar bahasa indonesia. Semisal, istilah 'jalan Cibubur', istilah ini memiliki arti tempat untuk lalu lintas orang-orang, kendaraan, dan sebagainya, yang bernama Cibubur.

Satu istilah lain misalnya, 'jalan kaki'. Istilah ini bermakna bergerak menuju sebuah tempat dengan menggunakan kaki. Kalimat lain pula sebagai contoh, 'Tiada jalan keluar bagi masalah ini'. Kata 'jalan' dalam kalimat ini tidak bisa terpisah dengan kata 'keluar'. Istilah 'jalan keluar' pada kalimat tersebut berarti solusi atau pemecahan atas masalah.  

Secara garis besar, istilah 'jalan' bicara tentang lintasan, jalur, atau suatu hal yang terkait erat dengan hubungan-penghubung, menghubungkan, atau dihubungkan. Jalan telah menjadi sebuah aspek yang begitu lekat dengan keseharian manusia. Mari sejenak berhenti dari aktivitas kita dan bertanya, adakah satu hari saja manusia tidak berhubungan dengan segenap aspek yang membentuk istilah 'jalan'? Manusia sadar-manusia yang mampu menggunakan akal-tidak pernah berhenti sedetikpun dengan istilah 'jalan'. Sederhananya, untuk sekadar mengatupkan mata sekalipun, manusia mengandalkan pikirannya yang berjalan.    

Jalan mengantarkan kita pada realitas dasar manusia yang tidak pernah berhenti. Pepatah jawa berkata, urip mung mampir ngombe. Pepatah ini mengajar manusia menyadari hakikat mereka yang hanya sekejap saja berada di dunia. Dunia boleh abadi, tetapi manusia-sang penghuni dunia-memiliki keterbatasannya secara fisik.

Keterbatasan manusia secara fisik di dunia, tak lantas menghentikan langkahnya untuk berjalan. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, menghasilkan sesuatu hingga sesuatu yang lain, menemukan satu hal dan banyak hal lain, serta berbagai macam aktivitas manusia sang pejalan. Perjalanan panjang manusia telah mengantarkan mereka hingga mencapai titik saat ini. Mulai dari sekadar mengambil tumbuhan liar dari alam, hingga menciptakan varietas tanaman baru melalui teknologi rekayasa genetika.  

Tulisan ini berbicara soal 'jalan' sebagai tempat untuk lalu lintas orang, kendaraan, dan sebagainya, serupa dengan makna pertama yang disebutkan dalam kamus besar bahasa indonesia. Bagi masyarakat yang hidup di kota besar, soal jalan tentu bukan perkara yang besar. Jalan-dalam konteks yang telah disebutkan-seolah telah ditakdirkan untuk lahir bagi manusia-manusia di kota besar.

Persoalan mereka-manusia kota besar-kini adalah bagaimana mengurangi kendaraan-kendaraan pribadi dengan jumlah yang begitu besar dan akhirnya berdampak pada kemacetan lalu lintas. Persoalan mereka adalah bagaimana mereka bisa tiba di kantor, sekolah, rumah, atau pusat perbelanjaan moderen dengan mudah.

Namun, sudut pandang yang dimiliki oleh warga kota besar, tidak serupa dengan bagaimana manusia di daerah terpencil memandang jalan. Bagi orang-orang di daerah terpencil, persoalan mereka bukanlah perkara kemacetan jalan akibat melimpahnya jumlah kendaraan pribadi. Bukan pula bagaimana mereka bisa tiba di acara peresmian rumah makan baru dengan segera. Tetapi, justru tentang apa yang bisa mereka lakukan agar ada pihak yang berkenan membangun jalan dan mengantarkan mereka keluar dari keterkungkungan perekonomian.    

Satu dari banyak wilayah terpencil itu ada di pulau Seram. Pulau yang terletak di bawah paruh burung cenderawasih Papua ini memiliki setumpuk cerita, betapa sukarnya masyarakat di sana untuk sekadar membangun jalan. Bulan Oktober tahun 2008 lalu, saya tiba di pulau ini. Melihat dari dekat, bagaimana jalan menjadi satu persoalan yang tak kunjung terselesaikan di daerah Seram.  

Wilayah pulau Seram cukup luas dengan struktur topografi yang berbentuk perbukitan.  Anak-anak sungai terbentang di banyak tempat. Saya memulai perjalanan dari Masohi yang menjadi pusat pembangunan di pulau ini. Masohi merupakan satu wilayah di bawah teritori kabupaten Maluku Tengah. Untuk menuju Masohi dari kota Ambon (pulau Ambon berada di sisi selatan pulau Seram), tersedia sarana transportasi laut berupa kapal perintis. Butuh sekitar dua jam perjalanan untuk tiba ke Masohi dari kota Ambon. Ongkos yang ditarik dari setiap penumpang tergolong tidak murah, mulai dari lima puluh ribu rupiah di kelas ekonomi, hingga seratus lima puluh ribu rupiah untuk kelas eksekutif.  

Pusat pemerintahan kabupaten Maluku Tengah terletak di Masohi. Di banding wilayah lain di pulau Seram, pembangunan infrastruktur di Masohi boleh dikata lebih maju. Di Masohi, kita masih bisa melihat jalan raya yang lebar dan panjang, rata dilapisi aspal hitam, dan sedikit yang berlubang. Dari Masohi, saya melanjutkan perjalanan menuju ke wilayah Tehoru di kabupaten yang sama.

Untuk menuju Tehoru, satu-satunya alat transportasi umum yang bisa digunakan adalah kendaraan sejenis mini bus. Tarif yang dikenakan untuk setiap penumpang dengan tujuan Tehoru, tidak kurang dari tujuh puluh ribu rupiah. Perjalanan dari Masohi menuju Tehoru membutuhkan waktu rata-rata selama empat jam.  

Beranjak dari Masohi menuju Tehoru, perlahan keadaan menjadi berubah. Kondisi jalan sedikit demi sedikit menunjukkan perbedaan dengan wilayah sebelumnya. Satu persatu lubang nampak besar dan kecil, menyusul kerikil-kerikil tajam, hingga jembatan penghubung yang runtuh digantikan dengan batang pohon sagu, menjadi fenomena yang menemani perjalanan saya menuju Tehoru.  

Saya sempat pula menemui aktivitas perbaikan jalan. Proses perbaikan jalan dilakukan dengan memberi lapisan baru di atas aspal yang telah rusak. Dengan metode seperti itu, berapa bulan jalan ini bisa bertahan, pikir saya. Di samping itu, banyaknya anak sungai yang membentang tak ayal membuat saya menemui jembatan yang sama banyaknya. Sayang, kondisi jembatan yang menjadi alat penghubung yang cukup vital seringkali mengalami kerusakan yang parah.

Bahkan, ada satu jembatan yang telah putus total. Kendaraan yang saya tumpangi, terpaksa melintas di bawah puing jembatan yang telah hancur terkena abrasi. Beruntung, kala itu tidak ada air yang mengaliri sungai ini. Tetapi, saya mencoba membayangkan bagaimana jadinya bila air sungai tengah penuh. Penduduk setempat tentu akan kesulitan untuk menuju ke wilayah di seberang sungai.                

Empat jam berlalu. Setelah melalui berbagai rintangan selama perjalanan, saya tiba di Tehoru. Tehoru merupakan terminal akhir bagi segala jenis sarana transportasi darat. Untuk menuju ke wilayah berikutnya, pilihan kendaraan yang ada hanyalah perahu. Saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Tunsai. Tunsai merupakan sebuah desa di kabupaten Seram Bagian Timur. Kabupaten ini bersebelahan langsung dengan kabupaten Maluku Tengah.

Meski terletak dalam satu pulau, tidak ada jalan yang bisa menghubungkan jalan antar dua kabupaten ini. Jalan dari Masohi menuju Tehoru boleh dikata masih jauh lebih baik daripada jalan yang menghubungkan wilayah Tehoru dengan desa yang lain.  

Ada dua alternatif perahu yang bisa digunakan untuk beranjak dari Tehoru, menuju ke desa yang lain. Alternatif pertama yaitu dengan menyewa perahu milik penduduk setempat. Di Maluku, tidak sedikit warganya yang memiliki perahu. Sebabnya, mata pencaharian sebagian besar penduduk di sana adalah menjaring ikan di laut. Perahu yang disewakan biasanya menggunakan mesin. Kapasitas mesin perahu mulai dari 15 PK hingga 80 PK. Semakin besar kapasitas mesin, makin besar pula kecepatan sebuah perahu berjalan.

Harga sewa untuk sekali jalan pun variatif, lima ratus ribu rupiah bahkan bisa lebih. Besarnya amat ditentukan oleh kapasitas mesin dan tempat yang hendak dituju.   Alternatif yang kedua adalah dengan menggunakan perahu biasa. Di Tehoru tersedia jasa perahu angkutan umum yang memiliki jadwal keberangkatan rutin setiap hari Senin dan Jumat. Tarif untuk sekali jalan sebesar lima puluh ribu rupiah. Saya dan beberapa rekan memutuskan untuk menggunakan alternatif pertama.

Pada waktu itu, pemilik perahu memasang tarif sebesar dua juta rupiah untuk mengantar sekaligus menjemput kami di tempat yang telah ditentukan. Perahu yang kami gunakan waktu itu menggunakan dua mesin dengan kapasitas 40 PK tiap mesinnya. Perahu pun melaju dengan cepat. Waktu yang kami tempuh untuk tiba di Tunsai tidak lebih dari satu setengah jam.  

Saya dan beberapa rekan satu perjalanan memang beruntung, kami bisa leluasa berpindah dengan perahu sewaan yang memasang tarif tidak murah. Saya mencoba membayangkan, bagaimana dengan penduduk di pelosok Tunsai dan di desa lain saat mereka hendak berpindah ke wilayah lainnya. Mayoritas penduduk di kabupaten Seram Bagian Timur dan wilayah lain di pulau Seram menyambung hidup dari hasil laut dan tanah. Itu pun, rata-rata dengan sistem yang masih amat tradisional. Ibaratnya, apa yang mereka lakukan hanya sekadar agar satu keluarganya bisa makan dan bertahan.  

Tidak hanya perkara pendapatan. Untuk menyambung pendidikan anak-anak pula tidak gratis, bagi penduduk setempat yang masih harus berjuang untuk sekadar mengganjal perut mereka yang lapar. Selain tidak gratis, jenjang pendidikan yang ada pula tidak memadai. Umumnya, sebuah desa hanya memiliki jenjang pendidikan tertinggi sampai tingkat menengah pertama. Sementara, untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, satu-satunya pilihan adalah dengan keluar dari desa. Bayangkan, bagaimana penduduk di daerah terpencil di pulau Seram tidak hanya terjerat satu duri, tetapi bertubi-tubi.  

Biaya untuk keluar dari desa tidak murah. Sedangkan, pendapatan mayoritas penduduk di banyak desa yang ada di pulau Seram tidak kunjung memadai. Akhirnya, di banyak tempat, fenomena putus sekolah adalah hal yang lazim. Hanya anak-anak dari keluarga berada, yang beruntung dapat menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan tinggi.   Setibanya di Tunsai, saya menyempatkan diri berbincang dengan kepala desa di sana. Penduduk Maluku memanggil kepala desa dengan sebutan raja.

Saya mengikuti kebiasaan ini dengan memanggil kepala desa Tunsai dengan raja Tunsai. Sang raja bercerita, dulu di desanya pernah ada jalan yang menjadi penghubung antar daratan. Bahkan, sarana transportasi umum bisa melalui jalan di desa ini. Tetapi, seiring berjalannya waktu, jalan-jalan yang telah dibangun mengalami kerusakan. Setelah itu, praktis jalur darat hanya bisa dilalui dengan kendaraan bermotor atau berjalan kaki.   Terputusnya jalan penghubung antar wilayah di Tunsai, menjadi awal kondisi perekonomian masyarakat yang meredup.

Kini, satu-satunya harapan dalam benak raja Tunsai adalah perbaikan jalan yang kembali menghubungkan Tunsai dengan daerah lainnya. Harapan raja Tunsai agaknya sedikit terjawab. Saat saya tiba di Tunsai, jalan utama sepanjang desa telah rata dilapisi batu. Pemerintah berencana untuk membuka kembali jalur penghubung antar desa. Akhirnya, suluh yang nyaris padam itu menemukan minyak yang baru.             

Soal ketiadaan jalan yang laik tidak hanya saya temukan di Tunsai. Di beberapa tempat lain di kabupaten Seram Bagian Timur, keberadaan jalan yang laik masih teramat langka. Bahkan, jalan di seputar kantor bupati setempat, masih berupa tanah liat yang belum terjamah aspal hitam. Kantor bupati terletak di sebuah daerah bernama Bula. Tidak seluruh jalan di wilayah ini yang belum terkena pengaspalan. Tetapi, sebagian besar jalan beraspal tersebut, sudah dalam kondisi yang tidak lagi rata di banyak sisinya. Sebuah hal yang cukup janggal. Mengingat, wilayah Bula merupakan basis penghasil minyak yang cukup besar. Di lokasi yang sama dan relatif berdekatan dengan kantor bupati, sudah lama berdiri dua perusahaan minyak raksasa.      

Dari Tunsai dan Bula, saya beranjak ke sebuah tempat bernama desa Werinama. Desa Werinama merupakan desa di kecamatan yang sama, Werinama. Berbeda dengan Tunsai dan desa lain di kecamatan Werinama, kondisi masyarakat di desa ini sudah lebih baik secara perekonomian. Basis pemerintahan kecamatan, pusat pendidikan hingga tingkat menengah atas, dan beberapa toko komersial berukuran sedang, berada di desa ini. Desa Werinama juga menjadi pelabuhan transit bagi kapal yang menghubungkan pulau Geser dengan kota Ambon. Karena faktor ini pula, perkembangan desa Werinama relatif lebih baik dibanding wilayah lain di kabupaten Seram Bagian Timur.      

Di desa Werinama, jalan utama sudah rata dengan aspal. Penduduk bisa dengan mudah  menggerakkan kendaraaan roda dua dengan mulus di jalan desa Werinama. Sayangnya, jalan yang telah beraspal ini, tetap tidak mampu membuat penduduk berpindah ke desa yang lain dengan leluasa. Jalan di desa Werinama yang mulus, tak diimbangi dengan kualitas jalan yang serupa di desa lainnya.  

Suatu sore ketika tengah berjalan menikmati mulusnya jalan aspal di Werinama, saya bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu tengah diam berdiri di pinggir jalan. Di sampingnya, ia meletakkan dua karung berisi beragam sayuran. Keringat masih nampak tersisa di rambut dan wajahnya. Lelaki itu kelelahan. Ia berasal dari desa Batuasa, letaknya tidak kurang dua puluh kilometer dari desa Werinama. Untuk menuju desa Werinama, ia berjalan dengan kakinya.

Perjalanan panjang yang ia lalui ini, dilakukan untuk sekadar menjual sayur-sayuran dari desanya. Di tempat tinggal lelaki itu, tidak ada pasar. Selain itu, daya beli penduduk di desanya tak sebaik penduduk di desa Werinama. Keuntungan yang ia peroleh, jangan ditanya. Bisa membeli beras kualitas jatah rakyat miskin sudah amat baik baginya.   Lelaki dari Batuasa itu tidak sendirian. Di musim panen, setiap pukul lima pagi, ia bersama beberapa pria yang senasib dengannya berjalan kaki menuju wilayah lain yang mereka anggap lebih menjanjikan perolehan keuntungan yang laik.

Seandainya ada jalan yang bisa menghubungkan desa mereka dengan wilayah yang lain, mungkin kondisi mereka akan berbeda. Lalu lintas angkutan jalan yang melalui desa mereka, memberi peluang bagi perbaikan ekonomi penduduk setempat. Akhirnya, mereka tak lagi perlu berjalan kaki puluhan kilometer untuk sekadar menjual sayur-sayuran yang mereka tanam. Tetapi, hal itu masih sebatas mimpi bagi penduduk di Batuasa dan desa-desa terpencil lain di wilayah Seram.  

Adam Smith mengawali naskahnya dengan kisah pembangunan jalan yang menghubungkan kota Edinburgh dengan London. Semenjak terhubungnya kedua kota ini, perekonomian masyarakat  di sana mulai beranjak naik. Smith tersadar, bahwa persoalan kemakmuran tidak hanya berhenti pada aspek pembagian kerja semata. Tetapi, lebih dari itu, keberadaan pasar berikut sarana yang menunjang bagi manusia untuk memasuki pasar pula sedemikian penting (Dua, 2008).  

Demikianlah, jalan menjadi bagian penting bagi masyarakat di daerah terpencil. Keberadaan jalan menjadi satu tali pembuka tabir kemiskinan di pulau Seram dan wilayah lainnya di tanah air. Ketika masyarakat di kota besar bergelut di tengah padatnya arus lalu lintas jalan-jalan protokol kota besar. Masyarakat di kantong-kantong kemiskinan masih terus bergumul dalam peluh dan doa, agar keberadaan jalan yang laik di daerahnya segera nyata.[Agnes P. B. Ginting]      

Blog EntryDec 16, '11 9:54 AM
for everyone
Indonesia merupakan wilayah yang begitu kaya. Kekayaan yang melimpah tersebar di ratusan ribu pulau yang teruntai dari barat hingga ujung timur garis khatulistiwa. Sayangnya, kekayaan alam yang melimpah di seluruh gugusan pulau di tanah air ini, tak berimbang dengan pemerataan pembangunannya. Kesenjangan hasil pembangunan terjadi antara daerah pusat dengan daerah pinggiran. Pulau Jawa, sebagai basis pemerintahan negara, berkembang jauh dibandingkan pulau-pulau lainnya. Pusat pendidikan, kesehatan, dan berbagai hasil pembangunan lain terpusat di pulau ini.     

Sehingga tak heran, bila berbagai penduduk di wilayah pulau lain, berbondong datang ke pulau ini. Tujuannya jelas, memperbaiki kesejahteraan. Ketimpangan kesejahteraan yang terjadi antara penduduk di Jawa dengan pulau lain terus terjadi. Seiring dengan hal itu, arus urbanisasi pun akhirnya sukar untuk dibendung. Fenomena urbanisasi merupakan dampak dari problem pembangunan. Hasil pembangunan yang terkutub di pulau Jawa, memupuk hasrat penduduk di pulau lain untuk mengadu nasib di wilayah ini.  

Dampak dari urbanisasi amat jelas. Arus urbanisasi bersifat asimetris dengan kemampuan pulau Jawa untuk menampung pertambahan penduduk di wilayahnya. Akhirnya, kerawanan sosial menjadi tak terelakkan. Keterbatasan lapangan pekerjaan dan fasilitas bagi para pendatang, menjadi gerbang menuju peningkatan tingkat kriminalitas di lingkungan sosial. Terdapat berbagai strategi yang dilakukan pemerintah untuk menuntaskan problematika ini. Salah satunya adalah kebijakan transmigrasi. Melalui program transmigrasi, pemerintah mengirimkan sejumlah keluarga dengan dibekali modal tertentu untuk mengadu nasib di pulau lain di luar Jawa. Serupa dengan kebijakan pemerintah yang lain, program transmigrasi memiliki dua ragam cerita yakni, keberhasilannya serta kegagalannya.  

Di Desa Batuasa, sebuah desa di kecamatan Werinama yang termasuk dalam daerah pemerintah kabupaten Seram Bagian Timur, hidup puluhan keluarga peserta program transmigrasi. Peserta program transmigrasi di wilayah itu berasal dari dua provinsi yaitu, Jawa Timur dan Jawa Barat. Peserta program dari Jawa Barat telah bermukim di daerah itu semenjak tahun 2005. Sementara, transmigran dari Jawa Timur menyusul di tahun 2007.   Areal pemukiman transmigran terpisah oleh jarak tak kurang dari tiga kilometer dari pemukiman penduduk asli di Batuasa.

Pemukiman mereka terletak di areal bekas pembukaan lahan hutan. Sumber mata air utama bagi penduduk di sana berupa aliran air dari sungai yang masih sangat jernih. Tidak ada tiang yang bisa mengalirkan listrik di sana. Setiap malam, keluarga transmigran memanfaatkan lampu minyak tanah sebagai alat penerangan. Di areal pemukiman transmigran itu terdapat lebih dari seratus rumah petak sangat sederhana. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu itu dibagi menjadi semacam blok-blok. Luas masing-masing rumah tak lebih dari dua puluh meter persegi.  

Dari ratusan rumah itu, kini hanya puluhan yang berpenghuni. Sekitar enam puluh keluarga transmigran masih bertahan di pemukiman ini. Banyak keluarga transmigran yang tidak mampu hidup di wilayah tersebut. Pasalnya, fasilitas hidup para transmigran yang berasal dari Jawa itu amat jauh berbeda dibandingkan daerah asal mereka.  

Bangunan sekolah yang telah berdiri, kini kosong tak lagi dimanfaatkan. Pengajar yang di awal rutin datang untuk memberikan pelajaran bagi anak-anak usia sekolah di sana, sudah tak ada lagi. Untuk menyambung ilmu, anak-anak keluarga transmigran harus berjalan sekitar tiga kilometer menuju sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di pusat desa Batuasa. Sementara, untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, anak-anak transmigran harus keluar dari desa, itu pun bila mereka ada cukup biaya.  

Sarana kesehatan bagi para transmigran pula bernasib sama. Di awal kedatangan, mereka dijanjikan akses kesehatan bebas biaya. Namun kenyataannya, untuk sekadar memeriksa kesehatan, mereka masih harus ditarik biaya petugas pemeriksa. 

Tidak ada hal lain yang dapat dilakukan para transmigran untuk menyambung hidup selain bertani. Hasil pertanian di sana pun tidak banyak ragam, hanya kacang panjang, timun, kangkung, sawi, dan padi. Panen mereka kerap tidak menentu, hama perusak tanaman seringkali menjadi ancaman. Hasil pertanian biasanya disimpan untuk konsumsi keluarga. Bila ada hasil lebih, panen mereka dibawa untuk dijual ke penduduk lain di luar kampung transmigran.  

Menjual hasil pertanian di daerah terpencil tentu bukan perkara mudah. Tiada sarana angkutan umum yang bisa mengantar mereka menuju tempat tujuan. Satu-satunya alat transportasi umum di sana hanya perahu yang tidak memiliki jadwal keberangkatan rutin. Dan lagi, ongkos menumpang perahu tidak sedikit bagi pendapatan mereka yang teramat sedikit.  

Satu-satunya cara bagi mereka untuk menjual hasil tani adalah dengan berjalan kaki. Para transmigran sedikitnya menempuh empat puluh kilometer perjalanan pulang dan pergi untuk menjual hasil panen mereka. Hasil perjalanan yang melelahkan ini, tidak cukup sebanding dengan untung yang mereka peroleh. Bagi mereka, untuk membeli beberapa beras kualitas jatah raskin, yang dijual sepuluh ribu rupiah tiap kilogram, saja sudah cukup baik.  

Selain bertani, sesekali, bila ada proyek pemerintah, para pria turun untuk menjadi buruh harian. Upahnya tidak seberapa, paling hebat dua puluh lima ribu rupiah untuk setengah hari bekerja. Hasil laut yang melimpah cukup menjadi penambal bagi perut bila musim ombak tidak tinggi. Berbekal alat pancing sederhana dan perahu dayung pinjaman, para penduduk mengail ikan. 

Satu ibu muda asal Bandung berulang kali mengeluh, "Tadinya datang kesini ingin dapat nasi dua piring. Ternyata, dapat setengah piring saja susahnya minta ampun, mbak." Hidup di wilayah itu memang tidak mudah. Tidak banyak kesempatan yang dimiliki penduduk setempat untuk memperbaiki kesejahteraan mereka. Lahan seluas lima hektar yang dibagi untuk setiap keluarga masih belum mampu mereka manfaatkan. Betapa tak, akar tanaman keras di lahan mereka, tidak berimbang dengan kemampuan serta peralatan pengolahan lahan yang mereka miliki.  

Belum lagi, beberapa paket yang dijanjikan pemerintah tak kunjung turun. Seorang pria paruh baya asal Bondowoso bersungut-sungut, ia bercerita banyak soal kondisi hidup yang amat tak layak yang mereka alami. "Kalau saja saya punya rejeki, saya ingin kembali ke kampung, mbak," ujarnya dengan dialek madura yang masih kental. Ia pun bercerita soal keinginannya untuk bertemu dengan dinas transmigrasi di Surabaya.  

Rata-rata peserta program transmigrasi di wilayah tersebut memiliki latar belakang pendidikan yang relatif rendah. Kebanyakan dari mereka hanya berijazah sekolah menengah atas. Tetapi, dari antara peserta program ada satu orang yang berlatar belakang sarjana pendidikan. Lelaki asal kabupaten Blitar provinsi Jawa timur ini sudah pernah mengikuti program transmigrasi sebelumnya. Enam tahun waktu yang ia habiskan untuk mengikuti program transmigrasi di Irian Jaya. Setelah sempat jatuh sakit akibat wabah malaria, ia akhirnya memutuskan kembali ke kampung halaman.  

Berbekal hasratnya untuk mencari peruntungan, ia kembali mengikuti program transmigrasi beserta istri juga anak sulungnya. Sayangnya, keberuntungan tengah menjauh dari pria itu serta puluhan keluarga peserta program transmigrasi di wilayah Batuasa. "Program transmigrasi yang gagal ya ini," keluhnya. Pria itu bercerita soal banyak hal yang membuatnya kecewa pada pemerintah. "Pemerintah janji tim evaluator program akan datang rutin. Tapi, sampai sekarang kami nggak pernah diperhatikan," ia menambahkan.  

Kondisi hidup masyarakat di kampung transmigran Batuasa memang sedemikian sulit. Berbagai sarana dan prasarana yang menunjang kesejahteraan mereka teramat sukar mereka jangkau. Akhirnya, yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu. Berharap terbuka kesempatan untuk keluar dari belenggu yang menyesakkan ini.  

Program transmigrasi merupakan langkah yang brilian bagi upaya menjaga keseimbangan wilayah di tanah air. Program transmigrasi bukan sebatas upaya untuk memindahkan manusia dari wilayah yang padat penduduk ke wilayah dengan penduduk lebih rendah. Lebih dari itu, program transmigrasi juga merupakan peluang yang besar bagi upaya perbaikan kondisi di wilayah lain yang masih tertinggal.  

Sayangnya, paradigma yang dipegang pemerintah masih bersifat reaktif atas problem kependudukan yang ada. Program transmigrasi lebih merupakan ajang pengurangan penduduk semata. Janji muluk yang dikeluarkan pemerintah untuk menarik minat masyarakat dalam program transmigrasi asimetris dengan realisasi atas janji tersebut.   Program transmigrasi Batuasa merupakan cermin kegagalan pemerintah atas dua hal. Pertama, kembalinya mayoritas keluarga transmigran ke wilayah asal mereka, mengindikasikan tidak tuntasnya problem kepadatan penduduk. Kedua, keberadaan transmigran yang memiliki keterampilan sejatinya menjadi satu kunci bagi perbaikan kondisi hidup masyarakat daerah tertinggal. Sayangnya, manajemen program yang buruk membuat hal itu jauh dari kenyataan. [Agnes P. B. Ginting]

Blog EntryDec 16, '11 9:42 AM
for everyone
Mari bicara tentang uang. Siapa yang tak kenal uang? Uang telah menjadi sebuah bahasa universal bagi manusia. Dengannya, kita bisa dekat dengan surga sekaligus neraka. Di sampingnya, manusia bisa bersahabat dengan bahagia atau bencana. Hidup memberi manusia kesempatan-kesempatan, untuk memilih berada di samping uang atau menjaga jarak darinya.  

Uang menjadi sebuah simbol hakikat manusia yang tidak pernah berhenti pada satu titik. Manusia terus berjalan dan menabrak setiap keterbatasan. Keterbatasan tanah, air, udara, bahkan manusia itu sendiri. Manusia mampu mengatur kesuburan tanah hanya dengan pengaturan zat asam dalam unsurnya. Manusia juga mampu menghilangkan biji dalam semangka melalui teknologi rekayasa genetika. Bahkan, manusia juga mampu mengubah pendek hidungnya menjadi dua sentimeter lebih panjang dari sebelumnya. Manusia memang tak pernah berhenti.  

Kisah manusia yang terus mengalir ini menjadi sebuah dasar kelahiran uang. Saat manusia merasa terkekang ketika harus mencari orang yang mau membeli tiga kambingnya, dengan lima ekor ayam yang ia butuhkan. Kerumitan sistem barter konon membuat uang memaksa dilahirkan. Si prenjak ini semakin mewarnai dunia dengan kelahirannya. Sayangnya, dari dua belas pensil warnanya, dua yang kuning, sisanya hitam.  

Ya, kini seolah uanglah yang berkuasa. Bahkan di Belanda, seorang van Leuwen yang teolog, sudi berdebat tentang hakikat uang yang kini telah bergeser menjadi tuhan. Tidak, dia bukan ateis. Jelas-jelas van Leuwen adalah teolog. Dia hanya mencoba mengeluh, fenomena uang yang kini seolah menjadi tuhan bagi umat manusia.  

Kepenatan van Leuwen ini juga saya rasakan. Tapi, tak seperti dia, saya masih menganggap uang adalah benda tak bernyawa dan bergantung sepenuhnya pada manusia. Uang, sama seperti gelas sebagai alat bantu untuk minum, serupa dengan lemari untuk meletakkan setumpuk pakaian, seperti sepeda yang kita naiki menuju ke sekolah. Semuanya benda mati, tidak bernyawa, tidak bertambah besar atau kecil. Kesemuanya hanya bisa bertambah usang dimakan air, api, dan udara.  

Fenomena uang yang seolah menjadi tuhan, tentu menimbulkan banyak tanya. Apakah ini nyata? Bahwa tuhan telah digantikan posisinya oleh uang kini. Manusia yang hidup di dunia moderen memang tak bisa mungkir dari realitas. Bahwa kini, untuk makan, untuk minum, untuk melindungi diri dari matahari siang, atau sekadar mengobati tetanus yang meradang, kesemuanya butuh uang. Lantas, apakah tesis uang sebagai tuhan terbukti dari sini. Tidak.  

Mari kita kembali pada hakikat manusia. Sebuah organisme yang unik, dan konon menjadi ciptaan Tuhan yang paling mulia. Mulia, sebab, sekalipun kera memiliki karakteristik fisik yang nyaris identik dengan manusia. Kera toh tak bisa menciptakan mobil untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah.  

Manusia terlahir dengan kemampuan untuk menggunakan rasio, logika, dan rasa. Berbekal segenap kelebihan inilah, manusia hidup dan mempertahankan kehidupannya. Kondisi alam yang terbatas, tak menjadikan manusia berserah dan menangguhkan segala sesuatunya pada kekuasaan alam. Manusia terus bergerak dan menembus batas-batas. Uang dan segenap materi lain yang berhasil diciptakan manusia adalah setumpuk simbol pemberontakan manusia atas keterbatasan.  

Apakah manusia menjadi tanpa batas di tengah keterbatasan alam? Secara jasmani, manusia bisa letih dan lantas mati dimakan sakit atau usia. Tapi, dengan rasio, logika, dan rasa, manusia tak pernah sampai di titik batas pada ketiga elemen ini sekaligus.  

Kita kembali pada pokok pembicaraan tentang uang. Tesis Marx yang menyatakan pergeseran peran uang, dari sekadar alat pertukaran menjadi komoditi pertukaran itu sendiri, telah digenapi. Uang tak lagi hanya alat bagi kita untuk membeli sebungkus roti. Perkembangan jaman telah mengubah uang menjadi target bagi para spekulan untuk meraup keuntungan. Melalui jalur penanaman modal atau yang lazim disebut investasi, uang mampu membuat desa terpencil di pinggiran Ponorogo berkembang pesat sekaligus runtuh dalam sekejap.        

Investasi menjadi sebuah keyakinan manusia bahwa produksi adalah sumber kemakmuran bersama. Di dalamnya, uang dijual dan dibeli. Gerak si permintaan dan penawaran yang saling tarik-menarik membuat perubahan besar dan kecil pada nilai uang yang ditanam dalam paket investasi. Dengan bumbu maksimalisasi keuntungan, setiap tangan yang menabur dalam paket investasi terus berlomba dengan kepentingan individunya. Sebab, bukankah motif kepentingan diri sendirilah yang membuat maju dunia? Sayangnya, tiada yang sempurna di dunia. 

Kepentingan diri sendiri telah membuat manusia lupa kalau dia menginjak bumi, dimana masih ada berjuta anak yang harus mengerang karena mahalnya biaya mengobati bisul di tubuhnya. Manusia memang tak berbatas kini. Tetapi, tanpa manusia sadari, dibalik ketidakterbatasannya itu, ia justru dibatasi dengan kehausannya akan kuasa dan harta.   Ketika pemilik modal saling berlomba menggali lumbung hartanya, pada saat yang sama, kehilangan pekerjaan, putus sekolah, kelaparan, sakit-penyakit, dan beragam derita lain hanya menjadi berita sepintas lalu berlalu dihembus angin keserakahan. Uang bukan dewa, ia hanya benda mati yang tak berdaya. Akhirnya, manusialah yang menjadi penentu segalanya, hingga yang tak bernyawa bisa menghancurkan dunia. [Agnes P. B. Ginting]